Proyek Kolam Renang Rp 1,5 Miliar Ridwan Kamil Jadi Sorotan, Ini Faktanya

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil, kesudahannya angkat bicara bersangkutan perdebatan proyek empang renang individu senilai Rp 1,5 miliar di lokasi tinggal dinasnya.
Emil menjelaskan, empang renang itu untuk menolong proses terapi kaki kirinya yang cedera.
Penjelasan tersebut menampik anggapan yang sudah beredar di masyarakat andai proyek tersebut telah menghambur-hamburkan duit negara.
Berikut ini kenyataan lengkapnya:
1. Gubernur Jawa Barat sangkal hamburkan duit negara http://68.183.232.134/
Emil segera menyangkal proyek empang renang tersebut mempunyai sifat menghamburkan duit negara. Alasannya, semua kemudahan yang di bina sudah cocok kebutuhan.
"Jadi tujuannya itu, kesatu tidak menghambur-hamburkan duit negara cocok kebutuhan. Kedua yang namanya hal Pakuan akan dilangsungkan setiap tahun sebab ini bangunan bersejarah yang mesti diasuh disempurnakan," tambahnya.
Seperti diketahui, akhir-akhir ini proyek empang renang di lokasi tinggal dinas Ridwan menjadi sorotan. Proyek empang renang individu senilai Rp 1,5 miliar di lokasi tinggal dinasnya ( Gedung Pakuan).
Pria yang akrab disapa Emil tersebut beralasan, kemudahan kolam renang itu diciptakan untuk proses terapi kaki kirinya yang cedera.
2. Terapi kaki kiri yang cedera
Proyek empang renang individu senilai Rp 1,5 miliar di lokasi tinggal dinasnya (Gedung Pakuan).
Pria yang akrab disapa Emil tersebut beralasan, kemudahan kolam renang itu diciptakan untuk proses terapi kaki kirinya yang cedera.
"Jadi penambahan kemudahan olahraga tersebut sesuai kebutuhan, kebutuhannya paling nyata, kaki saya cedera yang kiri. Dokter menganjurkan supaya tetap fit, sebagai gubernur Jabar, jangan lagi berolahraga yang sifatnya impact laksana lari atau loncat-loncat, mesti terapi dengan namanya berenang. Maka dalam rutinitas masterplan perbaikan yang namanya Pakuan saya arahkan dan setujui membuat empang yang tidak terlampau besar," tutur Emil seusai rapat paripurna di gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Jumat (15/11/2019).
3. Pertimbangan revitalisasi gedung
Di samping masalah cedera kaki, Ridwan mengatakan, proyek revitalisasi Gedung Pakuan wajar dilaksanakan mengingat nyaris 20 tahun gedung bersejarah tersebut tak dipermak.
Terlebih lagi, menurut keterangan dari Ridwan, bangunan tua tersebut sudah berusia nyaris 200 tahun. Ukarannya juga besar, seluas 2,3 hektar.
Penambahan kemudahan pun wajar dilakukan, laksana yang pernah di bina oleh sejumlah gubernur sebelumnya.
"Gubernur berikutnya membina gedung olahraga, saking besarnya, di zona olahraga tersebut ada lapangan tenis, lapangan basket, dan beda sebagainya. Ada pun Pak Aher menciptakan dulu macam-macam. Sudah 20 tahun tidak terdapat yang namanya renovasi, yang ada melulu perawatan saja," paparnya.
4. Mengaku tak hafal rincian anggaran
Ridwan menyatakan tak memahami detail nilai proyek empang renang yang menjangkau Rp 1,5 miliar.
"Saya enggak hafal detailnya sebab mata perkiraan yang terdapat di Pakuan tersebut banyak. Kalau inginkan detail, tanya kontraktornya. Kan anggarannya tersebut ada bikin ngaspal, perbaikan, jadi perkiraan itu satu, namun kegiatannya tidak sedikit di dalamnya. Dari tidak sedikit itu salah satunya menciptakan kolam," jelasnya.
5. Proyek empang renang dirasakan sebagai preseden buruk
Sementara itu, seorang pengamat politik yang pun direktur Indo Strategi, Arif Nurul Iman menilai, pembangunan empang renang individu Gubernur Jawa Barat tersebut menjadi preseden buruk.
Di samping itu, proyek tersebut menggambarkan politik perkiraan yang tidak mempunyai sensitivitas terhadap rakyat.
Berdasarkan keterangan dari Arif, permasalahan masyarakat Jawa Barat masih menumpuk laksana kemiskinan, edukasi dan infrastruktur.
"Artinya, perkiraan yang diciptakan untuk empang renang individu seharusnya dapat diperuntukkan untuk mengongkosi persoalan-persoalan tersebut. Ini menandakan politik perkiraan belum dapat sepenuhnya guna kepentingan publik, melainkan pun untuk mengisi hasrat kepentingan elite," kata Arief


