LUDOQQ BandarQ | Agen BandarQ | BandarQQ | Domino 99 | DominoQQ

Situs Bandar Judi BandarQ dan Domino99 Online

LudoQQ

Wednesday, September 11, 2019

Tak Jadi Lawan Donald Trump, Miliarder Starbucks Batal Maju Jadi Capres AS

Tak Jadi Lawan Donald Trump, Miliarder Starbucks Batal Maju Jadi Capres AS

Tak Jadi Lawan Donald Trump, Miliarder Starbucks Batal Maju Jadi Capres AS


baru-470

Miliarder Howard Schultz sekaligus mantan CEO Starbucks mencatat surat tersingkap bahwa ia mengurungkan rencana menjadi calon presiden Amerika Serikat (AS). Keputusan dipungut setelah melihat situasi politik AS yang ketika ini tidak cukup menguntungkan capres independen laksana dirinya.

Alasannya, kehadiran capres independen laksana Schultz mengancam dapat memecah sokongan di kalangan partai oposisi. Bila demikian, maka presiden petahana Donald Trump malah dapat kembali terpilih dan Schultz hendak mencegah itu.

"Hari ini, tidak cukup tidak sedikit orang yang inginkan mempertimbangkan menyokong kandidat independen karena urusan tersebut ditakutkan berujung pada pemilihan pulang presiden petahana yang membawa bahaya yang tak bisa," ujar Schultz dalam website resminya howardschultz.com, Selasa (10/9/2019).

Masalah kesehatan pun menjadi dalil sang miliarder membatalkan rencana sebagai capres. Sejak Juni lalu, ia menyatakan menderita sakit di punggung dan mesti dioperasi.

Latar belakang Schultz sebagai CEO berhasil di Starbucks menjadi modalnya guna maju sebagai capres. Secara finansial pun ia telah aman sebab punya kekayaan US 4,6 miliar atau Rp 64,7 triliun (USD 1 = Rp 14.070).

Uang yang ia siapkan demi menjadi capres pun bakal ia sumbangkan ke sekian banyak pihak, laksana yayasan. Schtulz juga berjanji bakal terus berusaha demi masyarakat, walau tak lewat jalur pemerintahan.

"Uang yang saya siapkan guna kampanye presiden bakal saya investasikan ke masyarakat, sekian banyak organisasi, dan usulan yang memproomsikan kejujuran, adab, yang menghasilkan hasil di perpolitikan kita," ujar Schultz.

Schultz memberitahukan niatnya sebagai capres pada Januari lalu. Ia menyatakan tak senang menyaksikan elit politik di Washington, D.C., yang lebih memilih kepentingan partai ketimbang menuntaskan masalah.

Ia ialah satu dari empat miliarder yang sempat diberitakan menjadi capres pada pilpres AS 2020. Tiga lainnya ialah Tom Steyer, Jamie Dimon, dan Michael Bloomberg. Steyer telah resmi berkampanye, sedangkan Bloomberg dan Dimon resmi memberitahukan tak bakal menjadi capres.

Sempat Dicibir sebab Status Miliarder

Niat Schultz menjadi miliarder oleh Senator Elizabeth Warren yang kini pun maju sebagai capres Partai Demokrat guna melengserkan Donald Trump. Schultz juga gerah dampak kritikan Warren terhadap kekayaannya.

Miliarder Howard Schultz, kian gerah dampak kritikan atas kekayaannya. Ini terjadi sebab mulai hadir tudingan tidak sedap berhubungan cita-citanya menjadi presiden Amerika Serikat (AS).

Salah satunya ialah fakta bahwa Schultz ialah seorang miliarder. Itu disinyalir membuatnya tidak mengetahui kehidupan keseharian masyarakat umumnya. Ia juga angkat suara dan mengaku kehidupannya malah adalah"American Dream" sebab sukses sebab keringat sendiri.

"Saya dikritik sebab seorang miliarder. Mari kita kupas itu. Saya berjuang sendiri ... Saya beranggapan demikianlah mimpi orang Amerika, aspirasi Amerika," ujar Schultz di MSNBC.

Ia pun menyatakan segudang prestasi yang diraihnya kala menjadi bos Starbucks. Di antaranya ialah jaminan kesehatan, pemberian saham, dan ongkos kuliah gratis.

"Dan Elizabeth Warren (senator Partai Demokrat) hendak mengkritik saya sebab sukses?" ujarnya. Warren sempat saling sindir dengan Schultz perihal masalah pajak miliarder. Mantan CEO Starbucks ini menilai wacana Warren berbau sosialisme.

Mengenai partai, Schultz menyatakan bukan anggota Partai Demokrat atau Partai Republik. Ia pun percaya sistem perekonomian AS butuh dirombak.


Perihal Orang Kaya yang Menguasai Politik

Mantan CEO Starbucks Howard Schultz pun jengah dengan sebutan miliarder. Ia memandang julukan tersebut membawa konotasi negatif.

Melansir Business Insider, Schultz membalas pertanyaan apakah miliarder memegang terlalu tidak sedikit kekuasaan politik di Ameriak Serikat (AS). Schultz justeru terusik dampak pertanyaan itu dan cuplikan videonya sempat viral di Twitter.

Ia menilai, predikat miliarder sudah mempunyai konotasi tertentu, tidak sekadar mencerminkan orang berharta. Perihal orang-orang yang menggunakan harta demi menguasasi politik, Schultz enggan menyebutnya miliarder.

"Saya lebih suka mengubah kalimat tersebut dan memanggilnya sebagai orang-orang berharta yang menambah kekayaan dan kepentingan mereka lewat teknik tidak adil," ujar Schultz.

Meski begitu, mantan CEO Starbucks tersebut mengakui terdapat orang-orang kaya dan korporasi yang mempunyai kekuatan signifikan dalam memengaruhi politik negaranya.

"Mereka mempunyai pengaruh yang (besarnya) sulit diandalkan kepada semua politisi yang berada dalam kedua partai (Demokrat dan Republikan)," ungkap Schultz