Terkuak, Tentara Jepang Minta 1 Budak Seks untuk Layani 70 Prajurit

Dokumen teranyar menunjukan bahwa Tentara Kekaisaran Jepang meminta pemerintahan mereka untuk meluangkan jatah satu budak seks atau budan seks (jugun ianfu) untuk tiap 70 prajurit.
Dilaporkan South China Morning Post, Sabtu (7/12/2019), kenyataan baru ini diuak oleh kantor berita Kyodo di Jepang setelah mengecek dokumen-dokumen zaman perang. Hal ini memperkuat sangkaan bahwa gejala budak seks memang diketahui pemerintah Jepang LudoQQ pokerace99
Salah satu dokumen dari provinsi Shandong, China, menyinggung Tentara Kekaisaran meminta pemerintah Jepang untuk meluangkan satu wanita guna tiap 70 prajurit. Dokumen beda dari provinsi Shandong menyinggung bahwa tentara Jepang meminta pemerintah menyiapkan minimal 500 jugun ianfu alias budak seks .
Wilayah Shandong berada di distrik pesisir unsur timur China. Pada era perang dunia II, Jepang sempat menempati provinsi ini sampai mereka kalah di peperangan.
Selama ini, pemerintah Jepang selalu membantah bahwa militer mereka punya kaitan dengan budak seks. Penyangkalan Jepang tidak jarang menjadi sumber pertikaian dengan Korea Selatan yang masih menuntut keadilan soal penduduk mereka yang menjadi budak seks.
Aktivis Korsel juga menyebut adanya dokumen ini menjadi bukti teranyar dari keterlibatan Jepang.
"Ini ialah pertanda jelas bahwa pemerintah Jepang bertanggung jawab guna merekrut paksa wanita-wanita Korea guna perbudakan seks," ujar Yoon Mi-hyang, kepala Dewan Korea guna Keadilan dan Pengingat yang menyokong hak korban budak seks Jepang.
Sempat Berdamai
Pada tahun 2015, Korea Selatan dan Jepang sebenarnya sudah menjangkau kesepakatan. Pemerintah Jepang juga meminta maaf secara sah dan meluangkan uang 1 miliar yen untuk menolong korban.
Sebuah yayasan untuk menyelesaikan proses tersebut. Namun, Jepang resmi memblokir yayasan tersebut pada pertengahan Juli lalu dampak tidak populer di kalangan korban.
Kesepakatan tersebut tercapai di era Presiden Park Geun-hye dan diurungkan oleh Presiden Moon Jae-in.
The Japan Times menyinggung ada 34 dari 47 korban yang setiap mendapatkan 10 juta yen. Sementara, terdapat 199 perwakilan dari korban yang telah meninggal.
Bagi yang anggota keluarganya telah meninggal, terdapat 71 orang yang inginkan menerima pembayaran, dan 58 dari mereka menerima setiap 2 juta yen. Namun lebih tidak sedikit yang tidak inginkan menerima pembayaran.


