LUDOQQ BandarQ | Agen BandarQ | BandarQQ | Domino 99 | DominoQQ

Situs Bandar Judi BandarQ dan Domino99 Online

LudoQQ

Sunday, December 15, 2019

Jatuh Miskin Usai 3 Kali Nikah, Bisa-bisanya Ayahku Mengaku Disantet

Jatuh Miskin Usai 3 Kali Nikah, Bisa-bisanya Ayahku Mengaku Disantet

Jatuh Miskin Usai 3 Kali Nikah, Bisa-bisanya Ayahku Mengaku Disantet




Hai Bunda, perkenalkan namaku Rina dan aku ialah anak dari istri kesatu ayahku. Cerita ini begitu pilu guna kuceritakan, namun aku yakin ini mesti dibagikan.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Di keluargaku, seluruh anak dididik keras oleh ayah semenjak kecil. Ayah memang familiar galak dan tegas.

Ibuku berjualan nasi warteg melanjutkan usaha orang tua, sementara ayah bekerja di di antara perusahaan swasta besar. Hidup kami bahagia ketika itu.

Sampai sebuah ketika, ketika aku duduk di ruang belajar 2 SMA, ayah datang membawa badai ke family kami. Ia menyatakan pada ibu dan family besar sudah menikah lagi dengan seorang wanita. Wanita yang tidak dikenal. LudoQQ Poker Galaxy

Sejak ketika itu, keluargaku mendadak hancur. Kami membenci ayah yang saat tersebut langsung menyimpulkan untuk berpoligami. Ia bersikeras tidak akan memisahkan ibuku dan menyanggupi menafkahi keluarga. Tak lama, ayahku pergi dari lokasi tinggal dan menyimpulkan tinggal di lokasi tinggal istri keduanya.

Setiap kali aku, saudara-saudaraku, dan ibu bertemu ayah, pertengkaran tidak jarang kali terjadi. Ayahku mulai berani main kasar. Ia melempar seluruh piring, bahkan memukul adik laki-lakiku di tengah jalan, di depan seluruh orang ketika nenekku meninggal.

Dari pernikahan dua-duanya itu, ayahku dikaruniai dua anak perempuan. Entah kenapa, aku dan kedua saudaraku paling membenci dua anak itu. Adikku bahkan pernah membentak mereka sebab marah.

"Dasar anak perebut suami orang!," teriak adikku kencang ketika dia mengunjungi rumah istri kedua ayah untuk mohon uang sekolah.

Hidup kami berjalan laksana ini sekitar lebih dari 20 tahun. Ibuku berhenti bicara dengan ayah. Ayah juga berhenti menafkahi kami sekeluarga. Sampai aku dan adik-adik lulus kuliah, semua ongkos ibu yang tanggung, semuanya didapat dari hasilnya bekerja di warteg.

Sekitar lima tahun lalu, aku mendapat kabar dari adik tiriku yang sekarang sudah SMA. Ia bilang ayahku sudah menikah lagi dengan seorang penjaja nasi. Wanita itu ialah janda beranak satu yang usianya sama dengan kakakku.

Kejadian yang dirasakan ibuku berulang. Kali ini yang mengalaminya ialah istri kedua ayah. Ia ditinggalkan begitu saja tanpa dinafkahi.

Jujur, aku tidak peduli lagi dengan hidupnya. Malah sempat terbersit rasa senang menyaksikan keluarga istri kedua ayah bernasib sama dengan keluargaku. Mereka kini hidup luntang-lantung.


Sedikit cerita, semenjak menikah dengan istri keduanya, ayah tidak jarang kali hidup menghambur-hamburkan uang. Ia membeli tidak sedikit perabotan, mobil, dan menuruti seluruh permintaan dua anak perempuannya itu. Namun, terdapat yang mengherankan dari ayah. Ia tidak pernah mau melakukan pembelian rumah. Ibuku dulu bermukim di lokasi tinggal kontrakan, begitupun istri kedua dan ketiganya.

Kembali ke kisahnya bareng istri ketiga. Setelah menikah lagi, ayahku dikaruniai anak laki-laki. Setelah itu, kabar mengenai ayah dan istri barunya hilang.

Kira-kira satu tahun yang lalu, ayahku hadir di lokasi tinggal paman. Kebetulan lokasi tinggal paman tidak jauh dari rumahku.

Ayah datang naik ojek dengan wajah lusuh. Aku ingat, saat tersebut dia telah pensiun dari perusahaan tiga tahun sebelumnya.

Aku penasaran, mengunjungi paman sesudah ayah pergi. Paman bilang, ayahku telah bangkrut. Ia menyatakan menjadi korban santet yang membuatnya kehilangan harta dan ditinggal istri ketiganya.

"Bapak bilang dia ditinggal istrinya itu, dibenci anak-anaknya, dan bangkrut. Semua sebab disantet. Ada yang enggak suka sama bapak," ujar paman padaku.

Aku kemudian berpikir, mengapa ayah dapat memandang dirinya disantet. Benar, tidak sedikit orang yang tidak suka padanya. Sampai istri dan anak-anak membencinya. Tapi, bukankah seluruh peristiwa tersebut terjadi sebab ulahnya sendiri.

Sejak ketika itu, ayah tidak jarang datang ke lokasi tinggal paman. Meminjam duit untuk ongkos hidup dan penyembuhan untuk santetnya.

Perlahan-lahan hidupnya mulai menderita sebab hartanya habis. Aku dengar dari paman, ayah bahkan tidak punya lokasi tinggal dan sejumlah kali menetap di masjid.

Sampai kisah ini aku bagikan, hidup ayahku masih sama. Ia tidak pernah inginkan bertemu dengan kami, bahkan saat kakakku dan aku menikah, ia melulu datang ketika akad guna menjadi wali nikah, setelah tersebut pergi. Entahlah, barangkali dia merasa malu atau takut.

Aku tahu andai diriku tampak jahat sebab tidak mau menolong ayah. Tapi aku tidak jarang kali teringat masa lalu, penderitaan ibu dan saudara-saudaraku. Meski begitu, sangat tidak aku berdoa semoga Allah SWT selalu mengawal dan menyadarkannya.