LUDOQQ BandarQ | Agen BandarQ | BandarQQ | Domino 99 | DominoQQ

Situs Bandar Judi BandarQ dan Domino99 Online

LudoQQ

Tuesday, December 10, 2019

Cara Mendidik Anak ala Konglomerat Ciputra yang Ternyata Keliru

Cara Mendidik Anak ala Konglomerat Ciputra yang Ternyata Keliru

Cara Mendidik Anak ala Konglomerat Ciputra yang Ternyata Keliru




Ludoqq Domino99 Seorang pengusaha sukses laksana mendiang Ciputra ternyata tidak memanjakan anak-anaknya. Ciputra mengajarkan anak-anaknya mengenai perjuangan dari titik nol.

Anak sulung Ciputra, Rina Ciputra lebih dulu bergabung dengan perusahaan kepunyaan ayahnya, PT Citra Habitat Indonesia (CHI). Sedangkan, adik-adiknya (Junita, Candram dan Cakra) masih kuliah di Amerika Serikat.

Ciputra mendidik anak-anaknya dengan paling keras. Hingga sebuah hari, saat ia berlibur di San Fransisco, lokasi anak-anaknya kuliah, ia mengejar sebuah kenyataan. Kenyataan yang kesudahannya mengubah teknik Ciputra mendidik anak-anaknya.

Selama kuliah di Amerika, Junita dan adik-adiknya tidak pernah rileks. Hal ini pasti mengganggu kegiatan kuliah mereka. Untuk menanggulangi hal ini,

Junita dan adik-adiknya pun mengunjungi psikolog mempunyai nama Mrs. Frances. Psikolog tersebut membantu melepaskan tekanan pada diri mereka dengan terapi mempunyai nama primal scream.

Anak-anak Ciputra tidak memberi tahu penyebab mereka tertekan. Ciputra pun mengunjungi psikolog itu untuk menanyakan penyebab anak-anaknya tertekan. Jawaban Mrs Frances menyatakan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.

"Mr. Ciputra, anak-anak kita memang menderita perasaan khawatir luar biasa. Itu kemudian dominan pada sikap mereka. Dalam urusan apa juga mereka tidak jarang kali merasa tegang dan takut menciptakan kesalahan. Mereka bercerita pada saya bahwa teknik didik kamu terlalu keras pada mereka. Mereka tidak jarang gugup dan amat fobia dimarahi anda," kata Ciputra menuturkan Mrs Frances

Bahkan, Junita dan adik-adiknya mengatakan untuk psikolog tersebut bahwa mereka tidak inginkan kembali ke Indonesia guna meneruskan perusahaan keluarga. Mereka takut menciptakan kesalahan.

Ia juga akhirnya berjuang mencari tahu apa yang keliru dari dirinya sehingga menciptakan anak-anak menjadi ketakutan. Konglomerat ini menjalani sesi konsultasi dengan Mrs France. Untuk Ciputra, hubungan ia dan anak-anaknya ialah hal yang paling penting.

"Bagaimana juga relasi saya dengan anak-anak ialah sesuatu yang mahapenting. Saya enggan kehilangan mereka. Bahwa mereka enggan kembali ke Indonesia sebab takut pada saya, itu ialah realitas yang sungguh menampar batin," katanya.

Ternyata, anak-anaknya tertekan karena teknik didik Ciputra yang keras dan menuntut kesempurnaan. Ia menyaksikan begitu tidak sedikit kesalahan dalam mendidik anak. Ciputra berjanji, bakal mengubah teknik didiknya.

"Jika saya pulang ke masa itu, hendak saya revisi sikap saya. Ingin saya peluk anak-anak berlama-lama dan menuliskan bahwa sebenarnya saya sangat menyukai mereka. Bahwa saya bekerja menghempaskan tulang karena desakan cita-cita yang besar, demi kebajikan mereka juga. Saya tak hendak anak-anak sengsara laksana saya di masa kecil," ungkapnya.

Ketika Ciputra meninggal dunia, Rina menuliskan bahwa sang ayah dikenal sebagai sosok pekerja keras dan sederhana. Ia tidak jarang kali menekankan kejujuran untuk keluarganya.

"Almarhum tidak jarang kali menekankan untuk keluarganya untuk mengkhususkan kejujuran dan integritas yang lantas diterapkan dalam menjalankan bisnis Grup Ciputra, yaitu menurut tiga pilar filosofi yakni Integritas, Profesionalisme dan Entrepreneurship," kata

Rina