LUDOQQ BandarQ | Agen BandarQ | BandarQQ | Domino 99 | DominoQQ

Situs Bandar Judi BandarQ dan Domino99 Online

LudoQQ

Sunday, October 27, 2019

Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi




Peringatan pemicu.

“Masih tidak sedikit orang di luar sana yang lebih parah kondisinya daripada kamu. Kamu tidak cukup bersyukur saja.” Klik di sini

Pernyataan tersebut sering kali dilontarkan untuk orang yang menghadapi depresi. Mungkin tujuannya baik, namun perkataan tersebut sering kali meremehkan masalah kesehatan mental yang dihadapi orang tersebut, membuatnya tak mau mencari bantuan profesional sebab khawatir dengan stigma.

Terkadang anda tidak menyadari bahwa andai ada seseorang yang sedang kecil hati dan menyimpulkan untuk menghubungi kita, mereka sudah meyakini bahwa kita dapat menjadi pertolongan kesatu mereka. Sering kali yang mereka perlukan melulu didengar saja.

Berikut ialah hal-hal yang usahakan tidak disebutkan kepada seseorang yang sedang depresi.

1. “Ah, gitu saja, dapat dilewati kok ini.” atau “Udah, lupain saja.”

Orang yang depresi sebenarnya mengalami kendala untuk mencapai orang beda dan menggali pertolongan. Jadi andai seseorang telah menghubungi anda dan mengisahkan masalahnya, tidak boleh sepelekan. Dengan kalimat-kalimat laksana ini, anda terkesan tidak sopan, acuh tak acuh, dan menyepelekan perasaan serta situasi mereka. Seakan-akan perasaannya berlebihan sebab seharusnya bisa dilupakan dengan mudah.

2. “Kamu tidak cukup bersyukur.”

Depresi ialah sebuah gangguan mental serius yang tidak dapat ditanggulangi hanya dengan bersyukur. Kalimat laksana ini bukan tidak membantu, namun juga dapat membuat temanmu merasa bersalah.

Padahal seluruh perasaan seluruh orang valid dan tidak layak untuk dibanding-bandingkan sebab masalah yang dihadapi masing-masing orang berbeda-beda. What’s a breeze for you can be a hurricane for someone else.

3. “Jangan negatif terus, deh.” atau “Ayo berhenti mengeluh.”

Kalimat laksana ini pun menunjukkan bahwa anda memandang sepele masalah yang dihadapi rekan kita. Seakan-akan masalah yang dihadapinya tersebut seharusnya dapat ditamatkan dengan mudah, yakni dengan benak yang positif dan berhenti mengeluh.

Semua orang pun ingin beranggapan secara positif, namun tidak seluruh orang mempunyai hak istimewa itu. Jangan tak sempat bahwa seseorang yang depresi memang mempunyai kecenderungan untuk terlampau memikirkan segala sesuatu serta mempunyai pikiran-pikiran yang negatif, dan ini bukan atas kemauan mereka sendiri.

Di samping itu, kenyataan bahwa rekan kita menghubungi kita, tersebut berarti bahwa dia percaya anda akan memahami perasaannya. Apakah pantas andai kita membalasnya dengan menyederhanakan permasalahan bahwa mereka melulu mengeluh?

4. “Kamu tidak cukup beriman saja.”

Mungkin untuk sejumlah orang, berdoa dan beribadah akan menolong mereka merasa lebih tenang dengan perasaannya. Tetapi seseorang dengan depresi tidak bisa sembuh melulu dengan doa.

Kita mesti mulai memperlakukan gangguan mental sebagai sebuah penyakit yang benar-benar serius dan perlu pengobatan atau penanganan yang khusus. Apakah anda akan memberitahu seseorang yang menderita usus buntu guna berdoa saja? Pastinya mereka memerlukan penanganan medis juga, kan?

Apa yang usahakan dikatakan:

1. “Tidak apa-apa kecil hati atau kecewa, itu dapat dimengerti.”

Jika ada rekan yang menghubungi kita sebab ia sedang depresi, tunjukkan bahwa anda ada guna mendengarkannya. Selanjutnya, saya dan anda bisa menunjukkan bahwa kita memahami situasinya dan dalil mengapa mereka bisa merasa laksana itu.

Kalimat-kalimat seperti, “Wajar kok anda sedih sekarang,” atau “Tidak apa-apa nangis dulu. Kalau telah merasa cukup, anda sama-sama bangkit lagi, ya,” bisa sangat menolong mereka melewati waktu yang berat. Ini sebab kita memperlihatkan untuk mereka bahwa apa yang mereka rasakan ialah suatu urusan yang valid, wajar, dan bisa dimengerti.

2. “Aku terdapat di sini untukmu, terdapat yang dapat aku bantu?”

Tunjukkanlah bahwa anda di sini guna mereka dan mau membantu mereka. Tenangkan mereka, pastikan untuk mereka bahwa anda memang terdapat di situ guna mereka secara tulus.

Tanyakan untuk mereka apa yang dapat anda lakukan. Apakah mereka perlu solusi, melulu ingin didengarkan saja, atau pun membutuhkan sokongan mental. Biarkan mereka menilainya, namun yang sangat penting ialah terlihat bahwa anda mengerti, tulus memperhatikan mereka, dan pun membantu mereka melewatinya.

3. “Aku tahu seluruh sedang sulit, tapi anda pernah lewati waktu sulit sebelumnya, aku percaya anda juga dapat lewati ini.”

Kita dapat menggantikan kalimat “Ah gitu saja, dapat dilewati kok” dengan kalimat ini. Niatnya serupa tetapi kita mengindikasikan bahwa anda benar-benar memahami situasinya dan pun perasaannya. Kita pun memperlihatkan bahwa anda percaya mereka powerful dan dapat untuk melalui masa sulit laksana ini. Terus berjuang untuk menyerahkan mereka ucapan-ucapan yang dapat membangunkan mereka pulang dan menyerahkan mereka sokongan emosional yang mereka butuhkan.



4. “Boleh aku peluk?”

Terakhir, ketika mereka telah lebih tenang dan lega, peluklah. Terkadang pelukan lebih berarti dari semua ucapan-ucapan yang bisa kita sampaikan kepadanya. Tunjukkan untuk mereka bahwa kita memahami bagaimana sulitnya melewati tersebut dan menghadapi tersebut semua, namun kita percaya mereka dapat melewatinya.