DOMINO99 - Kisah Tengku di Aceh yang Kebal Berkat Jimat Rantai Babi
Para serdadu itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, tak terkecuali seorang marsose muda yang tengah menelungkup di balik patahan pohon tua besar yang sudah lapuk. Pikiran prajurit yang direkrut dari sebuah pulau wilayah Hinda Belanda itu, sedang kalut.
Berkali-kali dia mencium ujung bayonet sembari merapal doa pemberian kakeknya. Bibir mengering, dada berdegup kencang, keringat dingin mengucur, terlihat jelas di diri anak muda itu.
Saat Letnan Terworgt menepuk pundaknya, dia terperanjat, seperti orang yang tiba-tiba terbangun karena dikejutkan seseorang ketika sedang tertidur pulas. Terworgt memelotinya.
Pelototan Terworgt membuatnya sigap. Ia lebih takut melihat letnan Belanda itu marah ketimbang ancaman El Maut yang mungkin sedang merambat lambat, atau mengendap-endap di antara pepohonan yang ada di depan mereka.
Sementara itu, marsose lain tampak menyebar, dan mengatur jarak persembunyian sekitar 20 meter dari posisi rekannya. Sebagian bersandar di balik pepohonan, sebagian lagi menyuruk atau menelungkup di antara rerimbun daun.
Hampir satu jam mereka mematung bersama nyamuk hutan yang membuat kulit terasa menggoda untuk diiris bayonet, saking gatalnya. Semua itu demi ego Letnan Terwork yang tak ingin pengepungan hari itu gagal untuk kesekian kalinya.
Tiba-tiba Letnan Terworgt mendelik, pendengarannya dipertajam, telunjuknya ia lekatkan ke bibir sebagai aba-aba agar seluruh pasukan diam. Suasana hutan menjadi hening seketika.
Telinga Terworgt menangkap bunyi kersik, seperti langkah seseorang menginjak dedaunan. Sepertinya, seseorang sedang sedang menuju ke arah mereka, namun tiba-tiba langkah orang itu terhenti.
"Arrgh!," tiba-tiba terdengar suara orang mengerang kesakitan.
Seorang marsose yang selonjoran di balik pohon yang letaknya dekat dengan suara langkah orang tadi, tewas. Lehernya ditembus rencong dalam kondisi selonjoran, dan tanpa perlawanan.
Terworgt terperanjat. Dia salah perhitungan dan tak menduga para pejuang Aceh mengetahui kalau mereka sedang bersembunyi di tempat itu.
"Verdomme!" rutuk Terworgt sembari memberi aba-aba menyerang.
Suasana hutan kini riuh. Suara takbir menggema, beriringan desing peluru, juga mata rencong yang mengayun kesana kemari, dan tentu saja, warna dedaunan yang memerah teciprat oleh darah.
Di atas, menggambarkan bagaimana pasukan Letnan Terworgt beradu dengan pejuang Aceh di sebuah belantara pedalaman Pidie. Hanya saja, Terworgt tidak menemukan Tengku Di Cot Plieng --yang sedang diincarnnya-- di antara barisan pejuang Aceh itu.



