Medan Osoji Club Sudah Membuat Aksi, Sebelum Medan Dapat Predikat Kota Terkotor
DOMINO99 - Predikat Medan sebagai kota terkotor disikapi oleh komunitas peduli lingkungan. Medan Osoji Club (MOC) tidak menampik hal tersebut.
Mereka menganggap kesadaran masyarakat sendiri memang kurang dalam hal kepedulian terhadap sampah.
"Masyarakat harus mandiri. Dari rumah, seperti keluarga yang paling utama. Orangtua harus jadi panutan. Bukan harus diperintah. Orangtua harus memberi contoh. Setelah itu dipahami, baru kemudian ditularkan ke lingkungan sekitarnya. Namun, ketika si anak mendapat pendidikan di rumahnya, seringkali tidak diikuti oleh lingkungan sekitarnya. Artinya, ini harus dilakukan oleh semua orang," ungkap Founder MOC Lily Fatma.
MOC sendiri terbentuk pada 9 November 2014. Komunitas ini berdiri karena menganggap Kota Medan sebagai rumahnya dan tidak ingin rumah yang mereka cintai dicemari dan dikotori.
Misi mereka adalah aksi pengutipan sampah. Kata Osoji sendiri dalam bahasa Jepang berarti bersih-bersih.
"Kenapa Jepang? Pertama, karena relawan kami banyak berhubungan dengan bahasa Jepang. Ada yang pernah kuliah di sana, lahir di sana atau sekadar yang sedang belajar bahasa Jepang. Tetapi, itu semua tidak disengaja. Yang kedua, karena kami melihat Jepang sangat sukses dalam menjaga kebersiahan dan lingkungan," lanjut Lily yang juga seorang pengajar Bahasa Jepang.
Lily menyampaikan, selama empat tahun, mereka terus bergerak membersihkan sebagian tempat di Kota Medan dalam dua minggu sekali.
Namun, tentu saja hal tersebut tidak berdampak banyak dan sampah tidak lantas berkurang.
"Apalagi sehabis event, ya. Banyak sekali sampah di mana-mana. Kami biasanya berkegiatan di Lapangan Merdeka. Selain itu, kita juga kampanyekan betapa pentingnya keberihan. Ke orang dewasa, agak susah kalau mau diedukasi lagi. Kami sering kampanye ke sekolah mulai dari SD hingga universitas. Kita juga sering mengunjungi festival-festival budaya," terangnya.
Ketersediaan tempat sampah yang kurang menurutnya tidak menjadi alasan penumpukan sampah. Karena di Jepang, sedikit ditemui tempat sampah. Yang penting adalah sedarannya, sekecil apapun.
"Harus ada kerja sama yang baik dengan pemerintah. Karena kami hanya menyosialisasikan dan kampanye. Ajak masyarakat. Kita ini kota besar. Apa tidak malu kalau banyak sampah. Ini juga akan berpengaruh kepada kesehatan dan bisa mengakibatkan banjir. Jangan setelah terjadi baru protes," tuturnya.
Meski begitu, ia optimis jika kedepannya Kota Medan akan terus berbenah, "Ada saja yang spontansitas yang mau ikut, ibu-ibu, anak-anak muda, anak-anak kecil. Masih banyak orang yang punya hati nurani dan kesadaran."
Rencananya, komunitas yang juga ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Jogjakarta, Banyuwangi, Palembang, Sulawesi ini ingin mendatangi keluruhan untuk mengampanyekan sadar lingkungan seperti tidak mengotori sungai dan parit.
"Kaderisasi anak muda juga haris berlangsung. Mereka harus dididik dan bertanggungjawab karena ini tidak bisa berhenti. Harus benar-benar lah. Kita di sini memerangi manusianya. Masyarakat harus sadar. Bahkan, sampahnya malah bisa dijadikan uang," pungkasnya.



