DOMINO 99 - Museum Islam Australia di Melbourne, Mengungkap Jasa Para Penunggang Unta Membangun Negeri Kanguru
Museum Islam Australia di Melbourne, Mengungkap Jasa Para Penunggang Unta Membangun Negeri Kanguru
Nullah Shamroze memiliki logat bahasa Inggris warga pedalaman yang sangat kental.
Dia seorang penjaga masjid tua di Broken Hill, keturunan dari para Muslim penunggang unta yang sering terlupakan di Australia.
Pria yang biasa disapa Bob ini merupakan keturunan terakhir para pendatang Timur Tengah yang di abad ke-19 bekerja sebagai penunggang unta.
"Tanpa jasa penunggang unta, negara kita tidak akan seperti sekarang ini," ujar Bob kepada ABC.
Bob tumbuh dewasa di kota pedalaman Broken Hill.
Ayahnya, Shamroze Khan, kemungkinan besar berasal dari Pakistan, tiba pada akhir 1800-an untuk membantu pendatang Inggris menjelajahi pedalaman benua ini.
Kisah mereka kini dipamerkan di Museum Islam Australia di Melbourne, bertujuan untuk mengungkap peran umat Islam dalam membangun Australia.
Direktur pendidikan pada museum ini, Sherene Hassan, menjelaskan pameran dimaksudkan sebagai upaya meluruskan sejarah.
"Sangat bermakna bila masyarakat luas memahami kontribusi umat Islam ke Australia selama berabad-abad," katanya kepada ABC.
Pameran bertajuk Mekah ke Marree menggunakan teknologi realitas virtual 3 dimensi, mengajak pengunjung menyusuri perjalanan Islam dari Mekah hingga ke masjid pertama Australia, yang dibangun para penunggang unta di Marree, Australia Selatan, tahun 1885.
Menurut Sherene Hassan, kereta api Adelaide ke Darwin, The Ghan yang dinamai dari penunggang unta Afghanistan, terkesan menyesatkan. Sebab, para penunggang unta itu bukan hanya dari Afghanistan.
"Mereka berasal dari berbagai negara, bukan hanya Afghanistan, tetapi juga Pakistan, Mesir, Suriah, dan Turki," jelasnya.